Sejarah Bawang Hitam dan Inti Kandungannya

Sejarah Bawang Hitam

Oleh Taufiq Hartono

(Pemerhati dan Praktisi Pengobatan Herbal)

 

1.  Sejarah Bawang Hitam

Bawang Putih di Masa Lalu

BawangHitam.ID | Kitab Suci Alqur’an sudah memberitakan betapa bawang putih di masa lalu (yang merupakan asal-muasal dari Bawang Hitam di masa sekarang) di ayat 61 surat al-Baqarah.[1] Artinya, Alqur’an memberitahukan dua hal. Pertama, bawang putih pasti punya makna yang sangat tinggi dalam kehidupan manusia. Kedua, bawang putih sudah dikonsumsi manusia di masa lalu dalam rentang ribuan tahun hingga kini.

Hasil penelitian sejarah menyebutkan bahwa bawang putih di masa lalu memang sudah dikenal sejak zaman Revolusi Pertanian,[2] di saat manusia memulai hidupnya dengan bercocok tanam, yaitu setelah zaman Neolitikum (Zaman Batu Muda).[3] Itu terjadi setidaknya sejak 7.000 tahun lalu.[4]

Di Asia, Afrika, dan Eropa dikenal sebagai bumbu. Sedang di Timur Tengah sebagai makanan biasa. Bawang putih di masa lalu selain sebagai campuran masakan, masyarakat Mesir Kuno menjadikan bawang putih juga sebagai obat.[5] Ada pun di Indonesia, seperti yang sudah diketahui banyak orang, bawang putih merupakan bahan pokok bumbu dasar hampir di setiap masakan, dan selalu tersedia di hampir setiap dapur orang Indonesia.

Sejarah penggunaan bawang putih demikian sekaligus menyatakan bahwa bawang putih adalah tanaman jenis umbi yang aman (bahkan menyehatkan) untuk dikonsumsi manusia sepanjang zaman. Tidak mengherankan bila kebutuhan bawang putih Indonesia mencapai kisaran 500.000 ton per tahun dan ada kecenderungan naik setiap tahunnya.[6]

2. Inti Kandungan Bawang Putih

Inti kandungan bawang putih telah diteliti dan diuraikan oleh para pakar kimia dan nutrisi. Bawang putih (Allium sativum[7] atau garlic dalam bahasa Inggris) yang dikenal sebagai tanaman jenis umbi ini ternyata mempunyai kandungan gizi yang sangat tinggi nilainya. Kandungan bawang putih per 100 gram atau 3.5 oz terdiri dari beberapa jenis gizi, antara lain sebagai berikut:[8]

  • Asam pantotenat (Vit. B5): 0,596 mg (12%).
  • Beta karoten: 5,00 mg (0%).
  • Diet serat: 2,10 gram.
  • Energi: 623 kj (149 kcal).
  • Folat: (Vit. B9) 3,00 mg (1%).
  • Fosfor: 153 mg (22%).
  • Gula: 1,00 gram.
  • Kalium: 401 mg (9%).
  • Kalsium: 181 mg (18%).
  • Karbohidrat: 33,06 gram.
  • Lemak: 0,50 gram.
  • Magnesium: 25 mg (7%).
  • Mangan: 1,672 mg.
  • Niacin: (Vit. B3) 0,70 mg (5%).
  • Protein: 6,39 gram.
  • Riboflavin: (Vit. B2) 0,11 mg (7%).
  • Selenium: 14,2 mg.
  • Seng: 1,16 mg (12%).
  • Sodium: 17 mg (1%).
  • Thiamine (Vit B1): 0,20 mg (15%)
  • Vitamin B6: 1,235 mg (95%)
  • Vitamin C: 31,2 mg (52%)
  • Zat besi: 1,70 mg (14%)

Sumber USDA Nutrient Database

Lebih dari itu, menurut penelitian, kandungan bawang putih (Allium sativum L.) yang paling menonjol adalah Allicin dan alliin dengan kadar yang sangat kuat dan pekat.[9] Allicin (diallylthiosulfinate) adalah senyawa organosulfur (belerang) yang diperoleh dari bawang putih. Pertama kali diisolasi dan diteliti dalam laboratorium oleh Chester J. Cavallito dan John Hays Bailey tahun 1944. Jika bawang putih segar dicincang atau dikeprek, enzim allinase mengubah alliin menjadi Alisin. Pada saat itu Alisin yang terbentuk, sangatlah tidak stabil dan dengan cepat berubah menjadi sejumlah senyawa belerang lain, seperti dialil disulfida. Senyawa ini menunjukkkan aktifitas antibakteri, anti jamur, antivirus, dan antiprotozoa. Asalnya Alisin ini merupakan mekanisme pertahanan diri bawang putih dari serangan hama.[10] Tidak mengherankan jika bawang putih bisa mengobati luka, panu, dan bisa digunakan sebagai antibiotik yang sangat baik.

Lebih lanjut, Allicin secara khusus dan detail sudah diteliti oleh para pakar kimia dan biologi, seperti Jan Borlinghaus, Frank Albrecht, Martin C.H. Gruhlke, Ifeanyi D. Nwachukwu, dan Alan J. Slusarenko. Hasil penelitian mereka sudah mereka rilis dalam sebuah jurnal, “Allicin: Chemistry and Biological Properties.” Mereka menegaskan bahwa sudah sejak ribuan tahun sebelum penelitian Cavallito dan Bailey, bawang putih (karena kandungan Allicin itu) sudah sangat dikenal penggunaannya untuk tujuan pengobatan di masa Romawi, Mesir, dan Mesopotamia Kuno. Setidaknya itu sudah berlaku sejak 2.600 tahun sebelum Masehi. Bersamaan dengan itu, juga sudah terdokumentasi dari masyarakat Afghanistan, Kazakhstan, Kyrgyztan, Pakistan, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Iran Utara, bahwa bawang putih sudah biasa digunakan untuk tujuan kuliner, terapi, juga sebagai media spiritual sejak berabad-abad lalu.[11] Masyarakat Yunani Kuno bahkan pernah menjadikan bawang putih sebagai ‘Makanan Dewa’ yang sangat diunggulkan.[12]

3. Keunggulan Bawang Hitam Tunggal atas Bawang Putih Kating

Sejarah Bawang Hitam | Bawang Lanang
KEUNGGULAN BAWANG LANANG | 3,5 kali lebih kuat

Dalam sejarah Bawang Hitam didapatkan data bahwa bawang putih Tunggal yang juga dikenal dengan sebutan Bawang Mutiara (Pearl Garlic), atau Bawang Lanang (Jawa) adalah jenis Allium sativum (bawang) biasa. Ukuran biasanya berdiameter antara 25 sampai 50 mm. Jika dicincang baunya lebih tajam dari pada bawang putih biasa atau bawang putih Kating. Begitu juga khasiatnya. Jika yang diinginkan hanya sebagai bumbu dapur, maka cukup bawang Kating saja. Namun jika untuk tujuan pengobatan, stamina, dan kesehatan, bawang Tunggal adalah yang jauh lebih baik dan lebih unggul.

Oleh karena itu di pasaran harga keduanya pun berbeda. Bawang Tunggal jauh lebih mahal dari bawang Kating. Terlebih lagi bawang Tunggal yang kulitnya bersetrip-setrip keunguan. Yang jenis ini akan lebih enak dan manis jika difermentasi untuk dijadikan Bawang Hitam. Maka Bawang Hitam yang berasal dari jenis bawang Tunggal yang seperti ini pasti mahal harganya.

Bawang putih Tunggal seperti ini sudah biasa tumbuh di kaki-kaki bukit di pegunungan Himalaya kira-kira sejak 7.000 tahun. Ia memang bukan varitas bawang tunggal tertentu, tapi lebih merupakan hasil dari pengembangan cara- cara penanamannya yang berbeda dari biasanya.[13]

Sejarah Bawang Hitam | Bawang Kating
BAWANG KATING | Bersiung Banyak

Efek bawang putih tunggal terhadap hepatoprotective (perlindungan terhadap hati dari kerusakan yang disebabkan oleh pengaruh obat, senyawa kimia, atau virus) dan antioksidan pada sekawanan kelinci, pernah juga diteliti oleh sekelompok ilmuwan; Khalid Mohammed Naji, Elham Shukri Al-Shaibani, Fatima A. Alhadi, Safa’a Abdulrzaq Al-Soudi, dan Myrene R. D’souza. Penelitian mereka sungguh sangat detail, metodologis, serta mengikuti standar penelitian dan pengujian akademis yang sangat ketat. Hasilnya mereka tulis dalam sebuah jurnal, Hepatoprotective and Antioxidant Effects of Single Clove Garlic Against CCl4-Induced Hepatic Damage in Rabbits,” yang antara lain menyimpulkan bahwa elevasi TPC (Total Phenolic Content) dalam bawang putih Tunggal jauh lebih tinggi (p < 0.001) pada 3.5 lipatan jika dibandingkan dengan level elevasi yang terjadi dalam bawang putih Kating.[14] Tidak mengherankan bila masyarakat tradisional yang paham lebih memilih bahan dasar bawang putih Tunggal untuk dijadikan obat. Meskipun lebih mahal harganya, karena daya penyembuhnya setidaknya 3.5 kali lipat jika dibandingkan dengan bawang putih Kating atau bawang putih biasa.

4. Bawang Hitam Berasal Dari Bawang Putih Biasa

Bawang Hitam atau Black Garlic asalnya adalah bawang putih biasa. Menjadi hitam karena proses fermentasi, yaitu dihangati dengan alat pemanas yang bersuhu antara 60°-70° Celcius pada kelembabab udara yang ideal, antara 80%-90%.[15]

Proses fermentasi ini bukan hanya menghitamkan bawang putih saja, sebagai bahan dasarnya, tapi juga memunculkan beberapa manfaat penting bagi penyembuhan dan kesehatan, antara lain:[16]

  1. Bawang Hitam menjadi enak, manis rasanya, dan bau tak sedapnya pun hilang. Orang yang memakannya seperti makan dodol.
  2. Bawang Hitam punya kandungan Allicin yang sama dengan bawang putih. Namun Allicin pada Bawang Hitam sama sekali sudah tidak berbau, sementara pada bawang putih baunya tetap. Menyengat dan tidak sedap.
  3. Bawang Hitam sangat kaya asam amino dan kandungan antioksidannya dua kali lebih banyak dari yang dikandung bawang putih.
  4. Bawang Hitam mengandung komponen yang sangat khusus, yaitu yang disebut S-Allylcysteine (senyawa antioksidan) dengan konsentrasi yang sangat tinggi, jika dibandingkan dengan yang dimiliki bawang putih, sehingga lebih mudah larut dalam air dan lebih gampang dicerna oleh tubuh.
  5. S-Allylcyteine sendiri telah terbukti mampu menyerap Allicin (senyawa aktif dalam bawang putih yang bersifat tidak stabil dan efektif membunuh mikroba, seperti kuman-kuman penyebab infeksi, seperti flu, gastroenteritis dan demam) dengan sangat mudah. Maka hal demikian menjadikan Bawang Hitam jauh lebih efektif ketimbang bawang putih dalam seluruh kemanfaatan di atas. Apalagi Bawang Hitam sangat bisa bertoleransi dengan sistim pencernaan, hingga perubahan kondisi pencernaan (seperti mual, melilit, atau ketidaknyamanan lainnya) bisa diminimalisir.
  6. Bawang Hitam lebih aman, lebih nyaman, lebih menyehatkan, dan lebih memberdayakan ketimbang bawang putih.

Bawang Hitam menjadi terkenal di era sekarang karena penemuan seorang petani Inggris, Mark Botwright. Hal ini disiarkan oleh BBC saat mengangkat tema Cooking and Lifestyle Program di bulan Pebruari 2009. Mark mengakui bahwa dirinya telah menemukan kembali resep bangsa Korea yang sudah dikenal dan sudah mentradisi sejak 4.000 tahun lalu.[17] Penemuan kembali khazanah lama memang merupakan yang sangat wajar. Apalagi penemuan-penemuan yang bernilai tinggi bagi kemanusiaan, seperti ditemukannya cara pembuatan Bawang Hitam dengan cara fermentasi ini. Maka masyarakat pembuat dan pengguna Bawang Hitam tentu berterima kasih kepada Mark Botwright. Selamat!

5. Kesimpulan Sejarah Bawang Hitam

  1. Menurut catatan sejarah Bawang Hitam ternyata sudah sejak sangat lama dikenal dan digunakan manusia sebagai obat, campuran masakan, dan penguat stamina.
  2. Para ahli dan ilmuwan tidak sedikit yang sudah menelitinya secara cermat dan ilmiah, dengan menggunakan laboratorium dan metoda penelitian mutakhir, hingga sampai pada kesimpulan bahwa Bawang Hitam termasuk jenis makanan mutakhir yang aman dikonsumsi dan memberikan manfaat yang sangat besar bagi kesehatan.
  3. Konsentrasinya antara lain terdapat pada salah satu kandungannya, yaitu Allicin, yang diakui bisa menurunkan berat badan, mengencerkan darah, memperbaiki saluran jantung, membasmi bakteri, sebagai antioksidan, mencegah hipertensi, dan menyerang sel-sel kanker dengan sangat baik.[]

 

[1] https://tafsirweb.com/370-surat-al-baqarah-ayat-61.html

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_dunia

[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Neolitikum

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Bawang_putih

[5] https://en.wikipedia.org/wiki/Garlic

[6] https://www.cnbcindonesia.com/news/20190418192332-4-67674/5-fakta-impor-bawang-putih-ri-raja-impor-terbesar-di-dunia

[7] https://en.wikipedia.org/wiki/Garlic

[8] https://www.honestdocs.id/manfaat-bawang-putih-bagi-kesehatan

[9] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6271412/

[10] https://id.wikipedia.org/wiki/Alisin

[11] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6271412/

[12] https://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Kuliner

[13] https://en.wikipedia.org/wiki/Solo_garlic

[14] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5561638/

[15] https://bawanghitam.id/cara-membuat-bawang-hitam-dan-khasiatnya-bagi-kesehatan/

[16] https://www.victoriahealth.com/editorial/health-benefits-black-garlic

[17] https://en.wikipedia.org/wiki/Black_garlic

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *